- Mesjid Lapeo..

- Mesjid Lapeo..
- Mesjid Imam Lapeo Di Campalagian, Polewali Mandar

Selasa, 04 Januari 2011

RIWAYAT HIDUP DAN PERJUANGAN KH.MUHAMMAD SHALEH


BAB I
PENDAHULUAN

Ulama dikatakan sebagai pewaris kenabian, ulama dengan ilmu kewara’an, sifat rendah hati, kearifan, dan atribut – atribut kenabian yang dimilikinya, telah menempatkannya menjadi sebercak cahaya kebenaran yang menjadi  penerang dan panutan bagi umat manusia di sekelilinganya. Ulama merupakan orang – orang pilihan Allah SWT yang telah diajari dan diberi hikmah kepadanya dan mereka mendapat keutamaan dan kebaiakan yang melimpah.
K.H Muhammad Shaleh adalah salah satu dari mereka yang telah mendapatkan hikma. Beliau adalah sosok yang mempunyai ilmu yang sangat dalam, namun dengan ilmunya tersebut tidak menjadikan dirinya sombong dan angkuh, bahkan sebaliknya. Beliau adalah ulama yang Wara’ renadah hati. Dengan sifatnya tersebut, beliau melayani semua lapisan masyarakat tanpa melihat perbedaan status sosial, agama dan suku. Ia lebih memilih hidup ditengah – tengah jamaahnya yang penuh dengan kesederhanaan, dari pada menduduki jabatan yang tinggi yang jauh dari jamaahnya.
Beliau sangat arif lagi bijaksana, dengan sifatnya tersebut sehingga beliau ditempatkan menjadi sosok ulama yang cukup disegani dan diperhitungkan oleh sesama ulama pada zamannya, selain itu dia juga sebagai panutan bagi murid – murid dan masyarakat disekitarnya. K.H Muhammad Shaleh, disamping sebagai ulama yang menguasai ilmu – ilmu syariat seperti Fiqih, beliaujuga adalah seorang sufi. Beliau merupakan ulama yang pertama di Indonesia yang mengajarkan tarekat Qadriyah ditanah mandar. Untuk mengetahui lebih jauh tentang K.H Muhammad Shaleh mari kita simak pembahasan berikut.



BAB II
PEMBAHASAN

1.    SEKILAS  TENTANG PRIBADI DAN PERJALANAN HIDUP K.H MUHAMMAD SHALEH.

K.H Muhammad Shaleh Bin Haji Hida Binti Haji Bidara, lahir di Pambusuang kecematan Tinambung kabupaten Polewali Mandar tahun 1913. Beliau merupakan anak keempat dari lima bersaudara, yaitu : Haji Amma Faizal (Haji Safia), Haji Muhammad Nur (Puang Razak), Haji Ahmad (Kanna Sitti Aminah), K.H Muhammad Shaleh, dan Hj. Subaedah (Amma Aco).
K.H Muhammad Shaleh menamatkan pendidikanya disekolah rakyat (SR) Pambusuang, disamping itu beliau juga belajar secara tradisional dasar – dasar ilmu agama pada beberapa guru, antara lain : K.H Sahubuddin (Guru Hawu), dan K.H Gale. Bahkan pendidikan dasarnya diawali oleh orang tuanya sendiri, seperti belajar membaca Al – Qur’an, belajar Tajwid, Asmal Husna, ilmu fiqih serta mendalami ilmu Tafsir dan Hadis.
Pada usia 15 tahun ia berangkat ketanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Di Mekah, Shaleh kecil tidak langsung pulang ketika ibadah haji usai. Ia tinggal di Mekah sengaj untuk bermukim ditanah suci untuk belajar agama. Mula – mula ia belajar madrasah Al – Falah. Pertama kali ia diajar oleh sejumlah murid yang telah senior pada madrasah itu, tetapi tiga tahun kemudian karena ketekunannya belajar, keadaan belajar berbalik.
Ia kemudian ditugasi kepala madarsah untuk mengajar bekas guru                (murid senior) yang juga mengajarnya pada waktu pertama kali masuk di madrasah                  Al – Falah. Karena hubungan dengan orang tuanya di kampung tidak selancar dengan apa yang diharapkan, Shaleh berkenalan dengan seorang pemilik toko buku dekat madrasah. Dari situlah ia memanfaatkan waktunya untuk membaca semua buku – buku yang ada di toko itu. Satu kenangan manis selalu diingatnya bahkan sampai akhir hayatnya, yaitu pengalam belajar disana.
Waktu itu ia tertidur dengan menggunakan bantal buah kelapa yang mudah terguling. Cara itu ditempuh untuk memudahkan bangun kembali bila kepalanya bergerak dan jatuh dari bantal kepala itu. Begitu ia terbangun ia akan mengingat – ingat kembali pelajaran yang sudah dibacanya.Menurut beberapa muridnya yang pernah diceritakan akan cara belajar seperti itu, beliau melakukannya selama berada di Mekah, lima belas tahun lamanya. Lima belas tahun lamanya menekuni pelajaran di Mekah, dalam usia 20 tahun ia pun mendapat kepercayaan yang istimewa dari gurunya. Shaleh muda ini diperkenankan mengajar di Mesjid Al – Haram. Suatu prestasi yang luar biasa bagi santri – santri “ajam” (bukan arab). Pada waktu malam yang larut saat ia masih dalam proses belajar mengajar ia menyempatkan waktunya belajar tasauf. Tengah malam ia melakukan meditasi yang dalam, Shaleh kemudian mendapatkan predikat khusus di kalangan para penganut Tariat. Sampai akhir hayatnya namanya menjulang tinggi dimana – mana dan muridnya tersebar dipelosok tanah air.
Beberapa gurunya yang sangat berjasa mengantar beliau menjadi seorang ulama besar antara lain :  Sayyid Alwi al Maliki, Syekh Umar Hamdan, Sayyid Muhammad Al – Idrus (Mursyid tarikat), Syekh Hasan Al – Masysyat dan beberapa ulama terkemuka lainnya. Konon sewaktu masih dalam proses belajar, Shaleh menunjukkan ketekunannya yang luar biasa ketaatannya kepada gurunya tanpa pamrih. Bahkan selama belajar pada sayyid Alwi  al – Maliki ia menjadi panutan unta terhadap gurunya khususnya dalam perjalanan antara Mekah – Madinah.
Diceritakan bahwa dalam perjalanan antara mekah dan madinah, karena keamanan dijalan kurang terjamin, mereka singgah berkemah dijalanan. Suatu saat  ia didapati gurunya sedang mengisap rokok Sayyid Alwi langsung mengambil rokok itu dari tangan Shaleh dan ujungnya yang terbakar ditekankan ditelapak tangan muridnya. Rokok itu dipadamkan ditelapak tangan muridnya yang taat itu, Shaleh yang diperlakukan seperti itu tidak merasa jengkel sedikitpun bahkan dianggap sebagai pelajaran yang tidak boleh dilakukannya sepanjang gurunya tidak membiarkannya. Pada saat Sayyid Alwi memadamkan rokok ketelapak tangan Muh. Shaleh, ia memang merasakan terbakar kulit tangannya tapi ia tidak pernah menengadah keatas untuk merintih,malah hal itu dibiarkannya berlalu sampa semuanya selesai. Sejak saat itu , gurunya Sayyid Alwi melihat suatu keistimewaan dihadapannya.
Dalam perjalanan Mekah – Medinah Shaleh menghafal Hadist Muwatta’ Imam Malik berkat gurunya, murid yang satu ini pasti memiliki kelebihan – kelebihan tertentu yang perlu dikembangkan secara itensif . Kepercayaan Sayid Alwi setelah itu kian besar, sehingga sebagian besar ilmunya diberikan kepada Muhammad Shaleh. Ia pun dianggap sebagai keluarga sendiri. Di Mekah salain mendalami          ulum Al – Qur’an, ulum al – Hadist, usul al – fiqih, ulum al – lugah teutama tasauf, khusus ilmu tasauf kepada Syekh Sayid Muhammad al – Idrus, Shaleh menyerahkan satu suku emas sebagai mahar.
Setelah K.H Muhammad Shaleh menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan di Mekah, ia menyadari kewajibannya sebagai seorang muslim terpanggil untuk melaksanakan tugas suc,i yaitu menyampaikan risalah yang dibawa oleh baginda Rasulullah Muhammad SAW , dalam rangka mengembangkan syiar islam. Untuk merealisasikan panggilan suci tersebut beliau bermaksud pulang ke Indonesia. Atas petunjuk K.H Abdurrahman Ambo Dalle, ia pun dinikahkan dengan Hj. Sitti Saleha (anak perempuan H.Lomma). sayang hubungan suami istri dengan salehah tidak belangsung lama, karena wanita Bugis tidak tahan tinggal di Mandar. Karena tidak ada alternatife lain istri pertamanya ini diceraikan, dan tdak lama kemudian ia menikah lagi dengan Hj. Harah.
Syekh Alwi al Maliki , bekas gurunya yang sangat dikagumi ketika di Mekah memang meramalkan bahwa Shaleh akan menjadi orang yang memiliki keistimewaan. Konon menurut ramalan Syekh Alwi, Shaleh akan menikah  sampai tujuh kali, dan hal ini memang terbukti. Dari pernikahan keenamnya, K.H Muhammad Shaleh mendapatkan keturunan  bernama Drs.H. Thasim, yang belum lama ini meninggal dunia. Sedang pernikahan yang terakahir dengan Hj. Mulia Sule, ia memiliki keturunan : Hj. Nasma, H.Muh Ilham Shaleh M.ag, Nelia, Jirana SE, Dra.Namirah, Drs. Padlullah, dan Ahrar.
Jenjang perjalanan hidup K.H Muhammad Shaleh tiba dimandar cukup bervariasi pada tahun 1942 – 1950 ia menjadi guru pesantren. Kemudian menjadi syara’ : Majelis pertimbangan di Balanipa. Pernah juga menjadi naib di Balanipa (kecamatan Tinambung sekarang) tgl 1 maret 1959 ia menjabat ketua pengadilan agama mahkamah syariat Majene hinggapensiun. Selain itu beliau juga pernah menjabat sebagai Qadhi di Mamuju .
sejak resmi menduduki jabatan itu, K.H Muhammad Shaleh mendapat ujian dari masyrakat setempat yaitu berupa guna – guna (sihir) dengan berbagai cara. Perbuatan terserbut dilakukan penduduk setempat, tidak bermaksud untuk mencelakakan,akan tetapi hendak mnguj sejauh mana sang Qadhi dapat menerima pertolongan dari Allah SWT. Karena keberhasilannya mematikan semua sihir yang ditujukan kepadanya, kiyai Shaleh dalam waktu yang tidak lama berhasil membina masyarakat menjadi taat terhadap agama. Disamping tugas – tugas formal yang diembangnya, ia juga aktif sebagai seorang mursyid yang mengajarkan tasawuf kepada murid – muridnya. Bahkan ajaran – ajarannya inilah yang kemudian sampai kepada jamaah qadariyah saat ini, melalui murid – muridnya yang ketika beliau masih hidup ia ditunjuk langsung untuk membantu dan mendampingi beliau mendengarkan ilmu tasawuf melalui ajaran tarekat Qadariyah.
Pada tanggal 10 april 1977 Masehi, bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul akhir 1397H,K.H Muhammad Shaleh berpulang kerahmatullah, yang kemudian dimakamkan di tanah kelahirannya di Pambusuang. Tanggal 13 apil 1977 M, tiga hari setelah beliau wafat atau betepatan tanggal 15 Rabiul akhir 1387 H. Murid – murid terdekat bersama dengan jamaah Qadariyah, serta keluarganya almarhum, mengadakan pertemuan guna membicarakan kelanjutan pengajaran dan perjuangan Gurutta al – marhum, seluruh jamaah yang diperkuat oleh keluarga Gurutta al – marhum. Pada saat itulah seluruh jamaah yang diperrkuat oleh keluarga Gurutta al – marhum bersatu menunjuk Drs.H.Sahabuddin sebagai penanggung jawab serta pelanjut ajaran gurutta. Namun saat itu Drs.H.Sahubuddin tidak bersedia, dan menyerahkan penanggung jawab Qadariyah secara umum kepada isteri Gurutta al – marhum Ibu Hj. Mulia Sule dan pelaksana teknisi serta pelanjut pengajaran tarekat diserahkan kepada Drs.H.Sahabuddin bersama dengan murid – murid yang telah ditunjuk oleh beliau semasa hidupnya.       





2.    TAREKAT QADARIYAH DALAM AJAAN K.H. MUHAMMAD SHALEH

Tarekat Qadariyah, adalah tarekat yang didirikan oleh sultan al – Auliya  Syekh Abdul Qadir Jailani, yang dilahirkan di Bagdad pada tanggal 1 Ramadhan 471 H (1077 M). Dari asal usul keturunannya, beliau adalah keurunanan cucu Rasulullah Muhammad SAW, dari keturunannya Sayyidatina St Fatima dan Ali bin Abi Thalib Radiallahu Anhuma.
Syekh Abdul Qadir Jailani adalah seorang tokoh Sufi yang terkemuka,          ajaran – ajarannya berintikan amalan moral islam yang bernafaskan semangat ke- islaman yang mengutamakan kehidupan kerohanian dengan lebih menonjolkan pengamalan terhadap prilaku kehidupan Rasullulah Muhammad SAW.
Setelah Syekh Abdul Qadir Jailani berpulang ke Rahmatullah, ajaran – ajarannya terutama ajaran kerohaniannya dilanjutkan leh anak dan murid – muridnya. Untuk mengentensifkan ajaran – ajaran tersebut dan untuk mengorganisir murid – murid beliau, maka anak – anak dan murid – muridnya kemudian membentuk suatu wadah jalan kerohanian (tarekat) terhadap ajaran – ajaran Syekh Abdul Qadir Jailani dengan menisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir Jailani dengan nama Tarekat Qadariyah. Tarekat inlah kemudian sampai kepada oleh K.H Muhammad Shaleh melalui gurunnya Syekh Alwi   Al- Maliki di Mekah al- Mukarrahmah.
Adapun tema senmtral dari ajaran yang diberikan oleh K.H Muhammad Shaleh terhadap murid – muridnya, melalui tarekat Qadariyah yang diajarkannya adalah mengenai ajaran tentang “Wushul Ila Allah” (kesampaian kepada Allah). Adapun penjabarannya terdiri dari : Dzikir (jalan untuk sampai kepada Allah), Ma’rifat (hakekat kesampaian kepada Allah),Fana dan Tajalli (keadaan kesampaian kepada Allah), dan Mawani (pengendalian diri dalam suluk).
Salah satu hal yang menjadi ciri khas dari ajaran tarekat Qadariyah yang diajarkan oleh K.H Muhammad Shaleh adalah pembaitan yang dilakukan terhadap mereka yang dengan sukarela karena Allah, akan mendalami ilmu tasawuf lewat tarekat Qadariyah. Dan walupun ada semacam pembaitan yang dilakukan, namun tidak semua yang ingin masuk bergabung ke tarekat tersebut, langsung dapat diterima menjadi murid.
Karena yang bersangkutan akan dilihat terlebih dahulu perilaku ibadah dan perilaku sosialnya, disamping sang Mursyid memohon petunjuk kepada Allah SWT lewat istirahat. Setelah isyarat secara gaib itu diterima barulah pembaitan dilakukan dengan didahului perjanjian sebagai berikut:
1.    Kesediaan untuk menjalankan segala perintah Allah terutama menyangkut kewajiban seorang muslim, sesuai dengan kadar kemampuan yang dimiliki.
2.    Kesediaan untuk tidak melakukan segala yang dilarang oleh Allah SWT terutama yang membawa dosa besar.
3.    Kesediaan untuk menghormati Ulama dan tidak menhinanya.
4.    Kesediaan untuk mengamalkan wirid yang menjadi syarat untuk dilakukan.
Jika perjanjian ini bersedia untuk ditaati barulah prosesing baiat dilakukan. Pelanggaran terhadap salah satu perjanjian yang telah disepakati, berarti secara otomatis juga telah terputus hubungan antara murid dengan Mursyid aapun tata cara dan materi pembaitan dimaksud, sebagai berikut :
1.    Yang akan dibaiat harus dalam keadaan bersih suci dari hadist, duduk menghadap kepada sang mursyid dengan penuh kekhusyukan, bertaubat serta menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT untuk dibimbing Sang Mursyid.
2.    Dibacakan silsilah Tarekat Qadariyah.
3.    Membaca Al – Fatihah 10 x
4.    Membaca surah al – Ikhlash 10 x
5.    Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW 50 x
Setelah acara pemabaitan barulah murid dibimbing tatacara membaca wirid demikian pula dengan tatacara melaksanakan ibadah shalat sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Lebih lanjut, setelah seorang murid menerima amalan – amalan yang diberikan oleh sang mursyid,sebaliknya mursyid akan senantiasa mengikuti perkembangan pengalaman spiritual dan murid – muridnya dan senantiasa  akan ditambahkan ilmunya sesuai dengan perolehan hidayah dan petunjuk yang diterimanya dari Allah SWT.

3.    PEKEMBANGAN TAREKAT QADARIYAH K.H MUHAMMAD SHALEH

Sementara hidup K.H Muhammad Shaleh dalam mengembangkan ajaran – ajaran tasawufnya, dilaksanakan lewat pengajian – pengajian yang rutin dilakukan untuk mengikat para jamaah pada pengajian yang dilaksanakan tersebut, diadakan pula rangkaian kegiatan berupa arisan antar anggota jamaah yang ada.
Hal demikian ini semakin menambah gairah setiap pengajian yang dilaksanakan, disamping itu, juga semakin menarik perhatian masyarakat Mandar, khususnya disekitar tempat berdomisili K.H Muhammad Shaleh untuk masuk bergabung kedalam jamaah tarekat tersebut.
Ajaran – ajaran yang bersifat spiritual ini, semakin merebak disegenap wilayah Mandar, sehingga dalam perkembangannya berikutnya, karena semakin bertambah banyakmua jamaah, K.H Muhammad Shaleh, secara formal menunjuk beberapa muridnya yang dianggap lebih cukup ilmu dan kearifannya, untuk membantu beliau dalam mengajarkan dan mengembangkan ajaran tarekat ini. Sehingga diantara muridnya ada yang secara khusus menangani daerah – daerah tertentu yang telah ditetapkan sendiri, sperti berikut ini :

1.    H. Abd. Hakim di Tanmung Polman
2.    H. Mustafa di Tanjung Batu Majene
3.    H. Pua Ria di Camba Majene
4.    H. Muhammad/Hasan Pua Harisah di Saleppa Majene
5.    Abd. Hamid/Baharuddin di Salabose
6.    M. Yahya (Imam Tananga) di Majene
7.    Abd. Rasyid Abdullah di Pangaliali di Majene 
8.    Drs.H. Sahabuddin di Majene dan Ternate
Bahkan pada acara – acara tertentu Drs.H.Sahabuddin dipercaya oleh K.H Muhammad Shaleh untuk mendampinginya, dan bahkan suatu ketika beliau menunjuk Drs.H.Sahabuddin menggantikan dirinya untuk berangkat ke Balik Papan atas undangan Pemerinatah Daerah setempat, demikian pula dalam suatu acara 27 Ramadhan yang dipusatkan di Bukku Majene.

Sepeninggalan K.H Muhammad Shaleh, tarekat Qadariyah, tidak hanya ramai dan berkembangan di daerah wilayah Mandar dibawah arahan murid – murid beliau, akan tetapi juga telah bekembang di luar daerah Mandar. Banyak orang berasal dari daerah lain, seperti kota sengkang, Palopo, Bone, Barru, Gowa, dan daerah – daerah lainnya datang secar khusus untuk mempelajari tarekat ini lewat murid K.H Muhammad Shaleh, yaitu Prof.Dr.K.H Sahabuddin.
Khusus untuk daerah Makassar tarekat ini tidak hanya menjadi konsumsi masyarakat menengah kebawah akan tetapi juga telah menambah menjadi perhatian dan bahkan pelajaran secara takhassus dari sebagian ilmuan Guru Besar dati UNHAS Makassar,       seperti  Prof.Dr.Ir.H.Baharuddin Mappangaja (Wakil Dekan Fak. Pertanian Unhas),     Prof.Dr.H. Hamzah S. (Dekan Fak.Kelautan Unhas), Prof.Dr.Ir.Basit Wello (Dekan Perikanan Unhas), demikian pula dengan dosen – dosen dari Universitas Negeri Makassar, Universitas Muslim Indonesia, dan lain – lainnya, lewat pengajaran yang disampaikan oleh Prof.Dr.K.H.Sahabuddin lewat Prof.Dr.K.H.Sahabuddin pulalah Tarekat Qadariyah ini kemudian berkembang diluar daratan Sulawesi Selatan seperti Palu, Ambon, Ternate.
Sudah menjadi tradisi di kabupaten Majene, khususnya para pengikut tarekat Qadariyah pimpinan almarhum Syekh K.H Muhammad Shaleh, berkumpul di puggung bukit Bukku Salabose Majene, setiap tanggal 27 Ramadhan malam yang dianggap paling afhdal karena diaharapkan turunnya Lailatul Qadar, ribuan jamaah berdatangan dari seluruh daerah meramaikan reuni itu. Mereka datang pada pagi harinya atau satu hari sebelum malam pelaksanaan Shalat Lailatul Qadar.
Dalam keadaan remang – remang diterpa sinar bulan yang tak begitu terang, ribuan pengikut yang terdiri dari laki – laki dan perempuan duduk bershaf sambil melaksanakan shalat jamaah dengan khusu’ jamaah yang berdatangan  bukan saja dari majene dan sekitarnya tetapi juga dari luar kabupaten. Tradisi untuk beshalat malam bersama – sama di punggung bukit Salabose itu dimulai sekitar 1966 sejak almarhum K.H Muhammad Shaleh  masih hidup. Ditempat dimana suasananya lebih lapang dan terbuka, jamaah langsung dihadapkan mereka dan bukit yang demikian strategis  menambah kenikmatan sehingga bersembahyang di tempat itu laksana langsung bertatapan dengan tuhan kebiasaan itu tidak berkurang dengan wafatnya al – marhum tgl 10 april 1977 yang lalu, tetapi semakin bertambah  meriah.
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

K.H.Muh.Shaleh bin Haji Hida binti Haji Bidara, dilahir di Pambusuang Kec. Tinambung Kab. Polman tahun 1913. Beliau adalah salah satu ulama arif lagi bijaksana, merupakan anak keempat dari lima bersuadara.
Pada usia 15 tahun K.H.Muh.Shaleh berangkat ke tanh suci Mekah untuk mengikuti pengajian kitab kuning di mesjidil Haram sekitar ± 13 tahun lamanya. Dalam jangka waktu 2 tahun, beliau telah berhasil lulus ujian pertama yang dilaluinya dari empat guru yang ada di Mekah, diantaranya : Sayyid Alwi al Maliki, Syekh Umar Hamdan, Sayyid Muhammad           Al – Idrus (Mursyid tarikat),dan Syekh Hasan Al – Massyadt.
Karena ketekunan dan kearifan yang dimilikinya K.H Muh.Shaleh berhasil memperoleh berbagai macam ilmu pengetahuan terutama ilmu agama tasawuf dengan ajaran tarekat Qadariyah. Selama hidupnya, disamping sebagai ulama beliau juga pernah juga menjabat Qadhi di Mamuju, pernah menjabat sebagai kepala kantor agama di Campalagian, di kecamatan Polewali, dan terakhir sebagai pengadilan agama Majene hingga pensiun disamping tugas – tugas formal yang diembannya, ia juga aktif sebagai seorang Mursyid yang mengajarkan tasawuf kepada murid – muridnya. Bahkan ajaran – ajaran ini kemudian sampai kepada jamaah Qadariyah hingga sekarang. Pada tanggal 10 april 1977 M, bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Akhir 1397 H, K.H.Muh.Shaleh berpulang ke Rahmatullah yang kemudian dimakamkan di tanah kelahirannya di Pambusuang.
Sejak saat itu yang menjadi penanggung jawab jamaah Qadariyah secara umum adalah Ibu Hj.Mulia Sule yang merupakan istri almarhum Gurutta dan pelaksana tehnis serta pelanjut pengajaran tarekat diserahakn kepada Prof.Dr.H.Sahabuddin bersama dengan murid – murid yag telah ditunjuk oleh beliau semasa hidupnya.
Tarekat Qadariayah adalah tarekat yang didirikan oleh Sulthan al – auliya Syekh Abdul Qadir Jailani, beliau seorang tokoh agama sufi yang terkemuka ajaran – ajarannya berintikan  amalan moral islam dan bernafaskan semangat keislaman yang lebih mengutamakan kehidupan kerohanian dengan lebih menonjolkan pengamalan terhadap perilaku kehidupan Rasulullah Muhammad SAW.
Adapun tema sentral yang diberikan oleh K.H Muh.Shaleh terhadap murid – muridnya melalui tarekat Qadariyah yang diajarkannya yaitu mengenai ajaran tentang ”Wushul Ila Allah” (kesampian kepada Allah) yang penjabarannya terdiri dari : Dzkir (jalan untuk sampai kepada Allah), Ma’rifat (hakekat kesampaian kepada Allah), Fana dan Tajalli (keadaan kesampaian kepada Allah) dan Mawani (pengendalian dalam suluk).
Salah satu ciri khas dari ajaran tarekat Qadariyah yang diajarkan oleh K.H Muh.Shaleh adalah pembaitan yang dilakukan terhadap mereka yang dengan sukarela karena Allah SWT, akan mendalami ilmu tasawuf. Semasa hidup K.H Muh.Shaleh dalam mengembangkan ajaran – ajaran tasawuf, dilaksanakan lewat pengajian – pengajian yang rutin dilakukan yang dirangkaikan dengan kegiatan berupa arisan antar anggota jamaah yang ada. Ajaran yang bersifat spiritual ini semakin merebak disegenap wilayah Mandar, dan juga wilayah lain seperti kota Sengkang, Bone, Palopo, Barru, Gowa dan Wilayah – wilayah lainnya.
Sampai saat ini sudah menjadi tradisi dikabupaten Majene, khususnya para pengikut tarekat Qadariyah melaksankan shalat berjamaah secar khusu’ yang dilaksanakan setiap tanggal 27 Ramadhan atau malam Lailatul Qadar, di bukit Bukku Salabose Majene. Kebiasaan ini  tidak berkurang dengan wafatnya K.H Muh.Shaleh tgl 10 april 1977 yang lalu, tetapi semakin bertambah meriah.  





2 komentar:

  1. Boleh tau sumber informasinya darimana?? Refrensi bukunya apa saja?? pake penelitian dilapangan gak??

    BalasHapus
  2. PERLU DILURUSKAN:
    Yang benar adalah Thariqat Qadiriah, bukan Qadariah!! sangat berbeda artinya!

    BalasHapus